Jalan Panjang Kerja Literasi*
*Pengantar untuk Kelas Menulis Kreatif: Menulis Bebas dan Tangkas di Batujaya, Karawang Selatan, Oktober 2020
Sekolah-sekolah kita telah lama memiliki persoalan serius sebagaimana yang ditulis As Laksana: gagal menjadikan para siswanya menjadi anak-anak yang gemar membaca dan piawai mengungkapkan gagasan dalam tulisan. Saya kira ini juga terjadi di luar dunia sekolah dengan kadar yang tak kalah mencemaskannya.
Mengampu Nyimpang.com dalam tiga tahun terakhir ini merupakan pengalaman paling menarik sekaligus mencemaskan dalam hidup saya. Menarik sebab dapat melihat dan terlibat langsung dalam satu bagian kecil dari sistem besar pendidikan kita dan kultur literasi—yang konon angka Functionally Iliteratenya menyedihkan. Mencemaskan sebab jangan-jangan apa yang diutarakan As Laksana, tidak akan pernah ada jalan keluarnya.
Bagian yang paling menarik dari pandangan As Laksana, yang juga sastrawan ini adalah ia memilih mengatakan “anak-anak yang tidak pandai” bukan “anak-anak yang tidak menulis”. Sebab itulah yang dapat kita lihat saat ini di internet. Kita bisa melihat bagaimana anak-anak muda menggunakan internet, atau beradu argumen di kolom-kolom komentar di situs-situs berita. Kuantitas tulisan (termasuk cuitan Twitter dan status Facebook) di internet yang datang dari tangan anak-anak muda memang sudah tidak bisa dihitung, tapi kualitasnya?
Kita tidak bisa menutup mata, bahwa sistem pendidikan dan kultur di masyarakat dari hulu ke hilirnya hampir melupakan satu-satunya keterampilan yang fundamental dalam dunia akademik sekaligus olah rasa dalam kesenian literatur: menumbuhkan gairah literasi—dalam hal ini membaca dan menulis.
Setiap kali hadir sebagai mediator kelas menulis, di komunitas, kampus, atau di sekolah, rasanya sedih mendengar keluhan yang sama. Dari yang mengeluhkan tugas menulis, sampai yang merasa tidak punya kepentingan sedikitpun untuk membaca. Ingin menulis tanpa membaca, adalah keluhan yang paling mengocok perut.
Aktif dalam gerakan literasi membuat saya menyadari beberapa hal sebelumnya. Betapa banyaknya aktivis literasi yang tak sanggup menyetok kesabaran untuk menulis, dan kesanggupan untuk menuntaskan bacaan.
Padahal aktivis literasi atau semisalnya, merupakan salah satu agen pendidikan non-formal untuk mendidik diri dan lingkungan sekitarnya menjadi lebih literat. Sebab negara sebagai yang paling bertanggung jawab selaku penyelenggara pendidikan, rasa-rasanya tak pernah cukup serius menjamin setiap orang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu, terlepas dari latar belakang ekonomi dan sosial masing-masing.
Bukankah kita sama tahu, timbal balik dari populasi yang terdiri dari orang-orang literat jelas akan memperbaiki banyak hal entah itu kualitas demokrasi, daya hidup dan keterampilan kerja, juga watak saintifik warga, yang mana semuanya itu merupakan aset bagi lingkungan sekitar kita juga.
Semua ini memang terasa besar dan mengawang. Makanya hal seperti ini, tak bakal tercapai dengan model kerja yang bersifat seremonial belaka—persis seperti yang kita sering lihat. Ini akan menjadikan kerja literasi menjadi kerja yang panjang dan terjal. Sebab meski kata literasi sudah kian dipandang penting dan banyak program atas nama literasi digulirkan, namun itu tak menjawab pertanyaan dasar seperti: kenapa tak banyak aktivis literasi yang piawai menulis dan getol membaca?
Apakah internet penyebabnya? Saya kira tidak. Sebab di internet sendiri sudah banyak platform berkarya, dan begitu melimpah produk-produk bacaan yang bermutu baik, tapi kenapa itu tidak selaras denga fakta yang menyedihkan ini?
Apa ada hal lain, yang kian kemari, kian sulit kita nalar masalahnya. Apa masalah sebenarnya? Apa belenggu yang memasung kita sampai kini? Apa yang sebenarnya menghadang gairah intelektual kita? Apa yang menyebabkan kita sebagai aktivis literasi, justru lupa bagian kerja yang esensial dari kerja-kerja panjang literasi?
Mari kita saling bicara, dan saling bercerita.
Ahmad Farid bersama teman-temannya mendirikan platform literasi daring www.nyimpang.com. Dapat disapa di media sosialnya @kangparid (instagram dan twitter)


Komentar
Posting Komentar