Mengasah Keterampilan Bahasa Manusia

image taken from here

Pada hari pertama Erin Gruwell memasuki kelas bahasa Ingrisnya dengan riang dan wajah berbinar. Dalam benaknya terbayang kelas berisi siswa-siswa yang membuat semua bayangan soal “surga mengajar” masuk akal baginya.

Semua calon guru tahu, berharap seperti itu sudah tentu normal-normal saja. Tapi ini adalah tahun 1992 di Amerika Serikat. Jalan-jalan dan gang-gang kecil di Long Island—latar tempat cerita ini terjadi—merupakan tempat-tempat yang menyebalkan. Pada tahun tersebut ada 3.600 kasus penembakan disengaja, dan 120 kasus pembunuhan terjadi perbulannya. Semua berkisar di antara perang antar geng, konflik rasial, dan pertikaian kartel narkoba.

Di kota itu semua orang dewasa dan remaja berjalan tergesa dan gelisah. Sementara di balik saku jaket pistol-pistol siap menyalak. Tembak menembak dan kejar-kejaran ala film hollywood benar-benar terjadi di jalan-jalan umum.

Anak-anak yang lahir dan besar dalam lingkungan seperti itulah yang dihadapi Erin Gruwell dalam kelasnya, yang menjadikan semua bayangan “surga mengajar” dalam benaknya hampir sirna.

Di hari pertama, anak-anak tersebut duduk berkelompok-kelompok, sesuai dengan asal ras atau geng mereka. Perkelahian-perkelahian kerap terjadi dalam kelas, tepat depan hidungnya. Hari lain ia melihat kerusuhan gengster di halaman sekolah. Dan yang membuatnya bergidik, ia melihat seorang siswa dengan pistol menyelip di pinggangnya.

“Setiap hari di luar kelas ini adalah perang. Untuk apa kami membuang waktu belajar hal tidak berguna seperti cara menulis dan lainnya ini?” bantah Eva penuh amarah. “Kami bahkan belum tentu mencapai usia 18.” sambung yang lain. Di hadapan Erin Gruwell, persoalan pelajaran bahasa, tiba-tiba saja menjadi persoalan yang lebih besar. Persoalan mempelajari manusia.

Persoalan Bahasa dan Persoalan Manusia
Rasanya kurang lengkap ketika persoalan berbahasa melulu disorot sebagai persoalan menguasai bahasa asing sebanyak-banyaknya, atau sekadar memahami unggah-ungguh berbahasa. Ya, itu semua memang penting. Sebab Anda tidak mungkin memanggil orang yang lebih tua dengan namanya saja, atau memanggil guru dengan julukannya yang konyol saat ia masih muda; juga akan sangat memalukan jika pengetahuan bahasa asing siswa mentok pada frasa i love you.

Tapi semua itu sekadar permukaan saja. Apalagi jika persoalan pentingnya menguasai bahasa asing dibangun atas pengertian yang penuh rasa curiga seperti agar-tidak-dibohongi-bangsa-lain.

Dunia bahasa adalah dunia manusia. Keragamannya menggambarkan keragaman manusianya. Keragaman suku dan bangsanya, ras dan budayanya. Yang mana hal tersebut adalah keniscayaan, atau dalam bahasa al-qurannya, sunnatullah.

Sejarah manusia sejak lama lekat dengan sejarah peperangan berlatar perbedaan-perbedaan tersebut. Dari perbedaan negara, ideologi, agama, sampai kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Menyusun pengertian pentingnya menguasai keterampilan berbahasa dengan asas-asas kecurigaan, dan akhirnya rasa-benar-sendiri hanya akan memperpanjang stigma buruk di tengah usaha-usaha mewujudkan perdamaian dan toleransi di berbagai tempat.

Alangkah baik jika landasan mempelajari bahasa asing, semestinya dibangun dari landasan yang baik seperti dalam Al-Quran Al-Hujurat 13, li ta’arofu baynakum agar saling mengerti, dan bersikap arif satu sama lain. Mengingat fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi, yang mana semua itu berpengaruh besar dalam proses pengambilan keputusan sehari-hari. Bayangkan jika setiap hari kita mengambil keputusan tanpa pertimbangan sikap saling mengerti, kearifan, dan lainnya.

Kembali pada Erin Gruwell dan kelas Bahasa Inggrisnya. Setelah semua hal yang dilakukan Erin, saya kira proyek sederhana inilah yang paling menonjol dalam membantu para siswa mengubah mindset fanatisme rasialnya. Ia meminta para siswanya untuk mengisi sebuah buku tulis. Mereka bebas menuliskan apapun di dalamnya setiap hari. Jika para siswa itu ingin Erin membaca tulisan mereka, mereka hanya perlu memasukkan buku itu ke dalam sebuah loker di kelasnya. Jika tidak Erin hanya akan melihatnya sepintas, guna mengetahui apakah murid tersebut mengisi buku tersebut atau tidak.

Tidak berhenti di sana, Erin juga melakukan hal-hal lain. Hari tertentu ia meminta muridnya membaca memoar seorang anak dalam dunia gengster. Kemudian memoar Anne Frank, seorang remaja di bawah penindasan Nazi Jerman. Hari lainnya ia mengajak mereka study tour ke musium toleransi. Kali lainnya lagi ia mengundang para korban penyintas holocaust untuk berdialog dan mendengar cerita bagaimana kekejaman rasial terjadi di masa Perang Dunia II.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut para siswa mempelajari bagaimana mengekpresikan diri (menulis jurnal setiap hari), mengasah empati (membaca buku), dan menyusuri sejarah kekerasan rasial (melakukan dialog dengan para penyintas holocaust). Hal-hal tersebut membantu mereka membangun kepribadian yang baik. Mereka menjadi anak-anak yang lebih toleran dan percaya diri. Hal tersebut berimbas pada peningkatan nilai akademik. Singkatnya setelah tahun demi tahun berlalu, kelas tersebut tidak lagi seperti pertama kali Erin Gruwell berada di dalamnya. Kebanyakan mereka menjadi yang orang pertama dalam lingkungannya yang melanjutkan pendidikan sampai SMA, bahkan perguruan tinggi.

Tahun-tahun setelah itu mereka menerbitkan “The Dairy of Freedom Writers” dan melanjutkannya dengan membangun Yayasan Freedom Writers yang mendedikasikan diri untuk mengulang kesuksesan ruang kelas 203—kelas bahasa Inggris Erin Gruwell saat di Sekolah Menengah Wilson—di seantero Amerika Serikat.

Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda sebagai Momentum Kemanusiaan
Seorang penyair kawakan Sutardji Cholzoum Bahri mengatakan bahwa Sumpah Pemuda merupakan sebuah puisi yang visioner. Ia merujuk pada baris “Kami pemuda-pemudi Indonesia menjunjung bahasa persatuan: bahasa Indonesia.” Pasalnya frasa bahasa Indonesia yang diserukan itu lahir pada Oktober 1928, 17 tahun sebelum Indonesia sendiri merdeka.

Yang ia lupa jelaskan, dan kebanyakan orang lainnya ialah bahwa spirit Sumpah Pemuda adalah spirit kemanusiaan dalam keragaman. Sebab kongres tersebut diprakarsai untuk menentang penjajahan, oleh para pemuda yang mewakili bermacam-macam organisasi pergerakan. Dari yang berlatar kesukuan seperti Jong Java dan Yong Ambon, sampai berlatar agama seperti Jong Islamieten Bond. Selain itu teks Sumpah Pemuda ini dibacakan di Museum Sumpah Pemuda, yang pada waktu itu milik seorang etnis Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.

Spirit para pemuda dalam Sumpah Pemuda, maupun anak-anak yang berada dalam kelas Erin Gruwell tersebut adalah spirit yang lebih jauh dari sekadar menjadi orang dari ras tertentu, negara tertentu, suku tertentu, atau umat agama tertentu saja. Tapi lebih jauh dari itu, menjadi manusia.

Perbedaan-perbedaan—dalam hal ini bahasa—tetaplah sunnatulah yang niscaya. Untuk itulah kita musti mengingat, dengan bahasalah kita punya kemungkinan untuk memahami bangsa lain dan cara berpikir lain. Sehingga setiap hari adalah usaha untuk membangun dunia yang penuh kasih sayang dan saling memahami. Dunia yang lebih damai dan toleran.

Pada akhirnya sangat penting mengembalikan marwah keterampilan berbahasa sebagai keterampilan untuk memahami diri sendiri sebagai bagian dari kemanusiaan. Entah sebagai individu maupun bagian dari bahasa, ras, agama dan bangsa tertentu.

Tanpa wawasan kemanusiaan, apa gunanya mempelajari bahasa-bahasa manusia?

Komentar