Jagat Tafsir di antara Keterbatasan Manusia

image taken from here


Dua minggu pascasidang skripsi saya masih tidak melakukan apa-apa terkait perbaikan yang dititah dosen penguji. Jengah. Lebih tepatnya saya tidak kuat berhadapan dengan simpulan sederhana dari revisi ke revisi; bahwa saya ternyata sama sekali tidak tahu cara menulis.

Lalu masa-masa itu berlalu, meski bayangan 'tidak bisa menulis' tetap ngendon dalam benak saya. Selama proses menyelesaikan skripsi tersbut saya membaca beberapa skripsi, demi melihat lebih banyak bagaimana pola-pola penulisan skripsi di kampus saya. Satu dari sekian cara untuk menyiasati cek-cok kecil dengan para pembimbing.

Nampaknya banyak skripsi yang ditulis dengan teknik yang buruk dan gegabah, meski ada beberapa yang bagus. Tapi juga hal itu tetap tidak menyelamatkan saya dari kekecewaan tadi. Para pembimbing memang banyak membantu, tapi juga dalam beberapa hal malah merecoki mahasiswa dengan pandangan pribadinya, yang sebenarnya kontra produktif dengan penyelesaian skripsi.

Di tengah semua kemelut itu saya memutuskan untuk menyatakan perasaan saya pada seseorang. Loh, kenapa tidak? Ukhty Larissa Chou saja menikah karena kalah debat.

Tugas akhir saya berjudul "Masyarakat Islam dalam Al-Quran: kajian perbandingan Tafsir Zhilal dan Major Themes of Quran". Tidak begitu spesial. Menunggu bikin judul spesial keburu dia dilamar orang.

Skripsi ini memakai kajian perbandingan yang menurtuku menarik dalam prosesnya, yang mengngatkan kita tentang situasi kebhinekaan kita.

Mulanya kamu mencari tema besar untuk menemukan sisi yang sama dan berbeda secara umum. Kemudian barulah memilih satu dari perbedaan itu untuk diletakkankan dalam konteks yang ada. Kajian macam ini kadang-kadang kok mirip dengan pola-pola bagaimana dua orang memutuskan untuk menjalin hubungan khusus.

Saya dan kekasih misalnya memiliki banyak kesamaan, juga perbedaan. Ia paham betul akar dari kuadrat angka 6, letak uterus manusia, dan kenapa minum kopi lebih dari segelas dalam sehari itu tidak baik. Dan saya tidak mengerti apapun soal itu. Sebaliknya ia tidak ingat apa judul novel terbaik yang pernah dibacanya. Barangkali itulah titik kontras kami. Titik sama kami adalah sama-sama ingin membangun start-up layanan ojek Bumi-Mars. Sepele.

Selama upaya-upaya pedekate maupun menyusun skripsi tersebut saya sadar satu hal, tafsir mirip dengan filsafat. Jika filsafat meletakkan kebenaran sebagai pusat epitimologinya, maka segala gutak-gatuk penalaran adalah cara untuk mendekatkan diri pada kebenaran tersebut. Kira-kira begitu. Mirip dengan Tafsir, pada mulanya seorang Mufasir menempatkan kebenaran (al-Quran) sebagai yang absolut, kemudian melakukan pendekatan untuk menyingkap pelbagai makna dari ayat-ayatnya. Seketat apapun metodi yang mufasir pakai dalam mengurai pesan-pesanNya, itu tetaplah relatif. Kalau tidak, mustahil sejak awal ada perbedaan pandangan terkait makna Ayat.

Tafsiran-tafsiran selalu relatif. Kerelatifan ini hadir karena serba keterbatasan pada manusia. Ia bisa berangkat dari alasan apapun: minat pribadi, latar sosial, orientasi politik, bahkan dari hal yang sepele semisal cara makan bubur.

Jagat tafsir kita terlalu besar untuk dirangkul seluruhnya dalam kekayaan bahasa dan pengetahuan manusia yang dingin. Bagaimana tidak, netizen kita misalnya, baru sekali liat video flat earth saja sudah goyah iman saintifiknya.

Masa modal video satu aja dia merombak keyakinannya tentang bumi bundar dan Neil Armstrong munggah ke bulan? Tapi begitulah yang terhadi. Barangkali tidak penting bentuk bumi seperti apa aslinya. Ujar Panji secara eksplisit suatu ketika. Yang penting adalah upaya penyelidikannya yang dilakukan dengan penuh gairah.

Sebagaimana al-Quran, Dia tidak meminta kita memahaminya seperti Dia memahami al-Quran. Dia menurunkanNya untuk menguji kita dalam segala kenisbian akal dan ketaksaan-ketaksaan tafsiran, demi melihat sebaik apa pekerjaan-pekerjaan menafsir kita terhadapNya, semestaNya, ciptaanNya.

Thabataba'i bilang "(bahkan) para mufasir selalu salingsilang pendapat soal metodologi maupun simpulan-simpulannya, tak ada yang bisa menyatukan dan menyamakan mereka kecuali kalimatin sawaa'in 'laa ilaah illallah'.

Kita tidak menebak-nebak, Sayang. Kita merasakan keyakinan pada apa yang mesti kita lakukan, dan semua itu memang mirip dengan menebak-nebak. Tetapi Tuhan tidak melempar dadu, ujar Einstein suatu ketika. Kerelatifan tafsiran bukanlah untuk membuktikan benar-salahnya tafsiran kita pada yang hakikat. Ia hanya upaya terus-menerus dan satu-satunya yang bisa manusia lakukan untuk menggapai yang hakiki. Tidak selalu berhasil, tapi selalu harus dicoba.

Seperti yang bisa kita temukan dalam skripsi-skripsi kawan kita sendiri. Bab-bab Kesimpulan mereka seringkali terbaca ngawur.  Tapi kita tahu ada yang lebih penting: metodologinya harus digunakan dengan tepat.

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan sosial kita. Perbedaaan adalah hal yang mutlak, bukan? Sementara saling memahami selalu menjadi upaya manusia yang tidak melulu berhasil. Misalnya kamu merasa dengan sayang padanya, maka sekonyong-konyomg ia akan balik sayang padamu. Padahal kan yang sering terjadi tidak begitu.

Tapi di antara itu semua pasti ada satu hal yang musti kita pegang baik-baik: metode dalam memahami kemanusiaan dan  kebhinekaannya itulah yang tak boleh salah.

Eh, gitu enggak sih?

Komentar

Postingan Populer